A-
 A 
A+
Open login
http://www.ourvoice.or.id/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/1311291.jpg
http://www.ourvoice.or.id/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/2975142.jpg
http://www.ourvoice.or.id/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/8555123.jpg
thumbnailthumbnailthumbnail

Profile OurVoice

Profile OurVoice

OurVoice adalah sebuah organisasi masyarakat sipil bagi kelompok maupun individu gay dan biseksual laki-laki. Organisasi ini juga membuka diri bagi kelompok atau individu yang memiliki kesamaan pandangan dan kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan, khususnya menyangkut isu orientasi seksual dalam masyarakat. OurVoice ditujukan bagi mereka yang ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun bagi orang-orang di sekitarnya. Our Voice menjadi wadah bagi kelompok gay dan biseksual laki-laki untuk melakukan advokasi dalam memperjuangkan hak-hak dasarnya sebag...

More in: Latar Belakang

Homoseksual Pandangan Kyai Husein Muhammad
Friday, 03 September 2010 03:58   

Ourvoice berkesempatan mewawancarai K.H Husein Muhammad, pemimpin pondok pesantren Dar At-Tauhid Arjawinangun Cirebon, Jawa Barat. Beliau juga anggota Komisioner Komnas Perempuan 2009-2014. Selama ini beliau vocal dalam berbicara tentang kesetaraan gender. Dalam perbincangan yang kurang lebih 30 menit ini, K.H Husein mengungkapkan pendapatnya tentang homoseksual dikaitkan dengan kajian agama Islam. Berikut hasil wawancara Hartoyo dan Rikky (Ourvoice) dengan K.H Husein Muhammad.

Apa pandangan Kyai mengenai homoseksual?
 

"Sebelum berkomentar tentang homoseksual saya ingin menjelaskan dulu kalau ada pandangan yang mungkin tidak tersosialisasikan dengan baik atau belum tepat. Saya menilai banyak berpandangan bahwa homoseksual hampir sama dengan Sodom. Tapi selama saya mendengar dan mengikuti pertemuan-pertemuan tentang seksualitas ternyata homoseksual adalah orientasi seksual yang sejenis.

Menurut saya hasrat seksual itu adalah sesuatu yang alami. Secara umum memang orientasi seksual adalah heteroseksual. Tetapi ada fakta bahwa ada orang yang memiliki hasrat seksual sejenis, yaitu homoseksual. Karena itu hasrat seksual yang alami / given tidak bisa dilepaskan dari pribadi seseorang. Maka saya kira kita perlu menghargainya perbedaan itu. Kita tidak akan menganggapnya itu hubungan seks yang salah. Apalagi dianggap hubungan seks yang menyimpang. Saya kira istilahnya homoseksual itu tidak umum saja. Karena menyimpang itu berbedasekali dengan yang tidak umum."


Bagaimana homoseksual dikaitkan dengan kajian agama?

"Saya menemukan bahwa "tidak ada pandangan keagamaan sejak masa klasik hingga saat ini yang mengapresiasi terhadap hubungan seks sejenis itu. Bahkan itulah yang muncul ditengah pikiran masyarakat secara umum di dunia Islam. Homoseksual sama dengan liwat. Perbuatan kaum Luth. Ketika disebut homoseksual maka asumsinya adalah Sodomi. Karena itu maka hukuman terhadap mereka dalam tafsir-tafsir maupun fiqih  itu sangat luar biasa beratnya. Bahkan konon justru lebih berat daripada hubungan perzinahan heteroseksual."

Read more...
 
Menafsir Ulang Posisi Kaum LGBT di Masyarakat Kita: Sebuah refleksi pribadi seorang Kristen
Saturday, 31 July 2010 05:41   
Hans AbdielOleh : Hans Abdiel*

Beberapa hari lalu, saya mengikuti diskusi bulanan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang bertemakan “Tafsir Homo Seksualitas Atas Kitab Suci”. Tema kajian itu menurut saya amat menarik dan termasuk “berani” karena selama ini studi-studi agama cenderung menafikan kajian homo seksualitas dengan berbagai alasan. Misalnya saja, pernah kampus saya hendak mengadakan pembinaan untuk para pendeta dan aktivis gerejawi tentang Lesbian, Gay, Biseksual,Transgender/Transeksual (LGBT) namun acara itu batal terselenggara. Konon karena tema tersebut kurang peminatnya. Dengan demikian, jika dibandingkan dengan studi-studi lain yang menyangkut kaum yang mengalami represi, maka nasib kajian LGBT termasuk yang paling “parah”. Tentu saja pendapat ini merupakan pandangan subyektif saya yang mungkin sekali salah. Karena itu, upaya JIL kali ini dalam menggerakkan diskursus kajian homoseksual secara khusus, dan LGBT secara umum, patut diacungi jempol dan dicontoh oleh pelbagai institusi yang mengaku tempatnya orang beragama.

Berhubung saya adalah seorang Kristen, maka di sini saya akan menuliskan sebentuk refleksi pribadi saya tentang kaum LGBT dari perspektif Kristen juga. Mas Toyo beberapa hari lalu telah menuliskan sebuah ringkasan dari diskusi bulanan JIL tersebut dengan sangat baik di situs ini. Di situ telah terungkapkan dengan cukup jelas bagaimana Ioanes Rakhmat, seorang teolog Kristen (saya masih menyebut demikian, kendati yang bersangkutan mungkin menolak), melakukan penafsiran ulang atas ayat-ayat di dalam Alkitab yang biasanya dipakai sebagai dasar untuk “mengharamkan” perilaku homoseksualitas maupun kaum LGBT. Saya melihat itu upaya yang baik, namun tidak cukup untuk mendapatkan dasar bagi orang Kristen untuk lebih memandang positif kaum LGBT. Yang Ioanes Rakhmat lakukan adalah suatu dekonstruksi terhadap Alkitab, namun setelah itu tidak ada rekonstruksi cara pandang yang bersumber dari Alkitab yang merupakan salah satu dasar utama bagi kekristenan. Saya berpendapat bahwa Alkitab telah mengakar secara kultural di dalam kesadaran umat Kristen Indonesia, khususnya kaum Protestan, sehingga bila cara pandang baru itu didasarkan pada Alkitab, hasilnya akan lebih efektif ketimbang menggunakan akal budi atau tradisi Barat semata.
Read more...
 
Homoseksual Dalam Wacana Teks
Thursday, 29 July 2010 09:55   

Homoseksual Dalam Wacana Teks AlkitabOleh : Hartoyo

Tulisan ini merupakan ringkasan dari diskusi bulanan Jaringan Islam Liberal (JIL), 26 Juli 2010. Tema diskusi kali ini berbeda dari diskusi sebelumnya, bahkan kali pertama JIL mengambil tema yang dianggap banyak orang sangat kontroversial, Homoseksual dalam Kitab Suci. Diakui oleh moderator  diskusi yang juga “pentolan” JIL Abdul Moqsit yang mengatakan bahwa ini pertama sekali tema homoseksual diangkat dalam diskusi JIL.  Menjadi sejarah sendiri bagi JIL maupun gerakan pembaharuan agama khususnya Islam dan Kristen dalam melihat persoalan seksualitas (baca: homoseksual).  Mungkin pandangan banyak orang bahwa diskusi kali dengan kesimpulan bahwa homoseksual tidak dikaitkan dengan agama, artinya jika ingin bicara soal “kebenaran” homoseksual tidak dihadapkan pada teks-teks suci. Tetapi diskusi kali ini justru membongkar wacana teks kitab suci dalam konteks “keberpihakan” pada hak-hak kelompok homoseksual.

Diskusi kali membahas dari dua pandangan agama (Kristen dan Islam), dengan menghadirkan Bapak Ioanes Rahmat (Kristen) dan Mohamad Guntur Romli (Islam).  Ioanes Rahmat sendiri berawal sebagai seorang pendeta dan juga pendidikan pada sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Akhirnya dia mengidentifikasikan dirinya sebagai pengkritik pemikiran Teolog Kristen.  Dia banyak menghasilkan beberapa tulisan dan buku.  Salah satu tulisannya dapat diakses dalam blog pribadi bapak Ioanes Rahmat di  http://www.ioanesrakhmat.com/.  Sedangkan Mohamad Guntur Romli adalah pemikir muda NU yang juga aktivis pluralisme di Indonesia. Dia juga aktif menulis dan mengkaji Islam dalam konteks nilai-nilai kemanusiaan. Buku yang sudah dihasilkan diantaranya ; Ustad, Saya Sudah Di Surga dan yang terbaru Muslim Feminis. Untuk mengetahui pemikirannya dapat diakses dalam di http://guntur.name/. Diskusi kali ini di moderatori oleh Abdul Moqsith Ghazali, seorang dosen UIN Jakarta dan juga salah satu aktivis JIL.

Read more...
 
Bus Transjakarta “Syariah” Yang Heteroseksual
Monday, 26 July 2010 00:18   

Busway HeteroseksualOleh: Hartoyo

Mas, antri dipintu sebelah! Kata seorang perempuan yang sedang menunggu bus Transjakarta di Halte Dukuh Atas Jakarta Pusat. Aku tidak menjawab, tapi aku juga tidak menjalankan perintah perempuan itu. Dalam keadaan kaget dengan perintah itu, aku kemudian menjawab,kenapa aku harus antri dipintu sebelah sana?

Perempuan itu kemudian menjawab kembali, pintu ini khusus untuk perempuan. Laki-laki dipintu sebelah sana, sekali lagi diucapkan itu. Perempuan menunjukkan jarinya pada kertas yang ditempel dekat pintu masuk busway yang bergambar “simbol” perempuan. Tanpa bermaksud aku ingin pindah di pintu sebelah yang khusus laki-laki. Akupun menjawabnya dengan santai saja,mbak justru kalau saya pindah kesana malah akan terjadi pelecehan seksual! Perempuan itu dari raut wajahnya seperti bingung, mungkin tidak begitu paham dengan apa yang aku ucapanku.

Sebelumnya aku tidak begitu peduli dengan aturan itu,walau aku sudah mengetahui adanya aturan pemisahan pintu masuk busway antara laki-laki dan perempuan. Aku sendiri tidak pernah mengindahkan aturan itu. Aku sebelumnya tidak pernah mendapatkan teguran dari pihak manapun, termasuk dari petugas busway. Menurut pengelola bus transjakarta (busway) mengaku kewalahan dengan pemisahan jalur masuk bagi laki-laki dan perempuan pada halte-halte padat penumpang (www.detik.com)

Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 16